Budaya Malu dan Pemimpin yang Ideal di Saat Krisis

 

BUDAYA MALU PARA PEMIMPIN
Mencermati dari berbagai fenomena yang ada tsb, nampak sekali bahwa political trust menjadi sebuah penyebab yang lebih banyak berperan mengganggu perkembangan negara dibandingkan hanya mengupas persoalan ekonomi. Kepercayaan pada sistem politik, termasuk kepercayaan terhadap pemimpin dan kepemimpinan menjadi hal yang sangat menentukan arah kemajuan negara ini. Pada saat pemimpin tidak lagi dipercaya, tentunya sulit bagi seseorang untuk mengikuti aturan yang dibuat atau menghormati kebijakan yang dikeluarkan. Mereka tidak malu untuk tetap berkuasa walaupun banyak orang yang menyangsikan, tidak malu untuk melanggar sumpah sebagai pejabat negara yang seharusnya berfikir untuk kepentingan rakyat, tidak malu untuk tetap menduduki jabatan walaupun sudah diberi vonis bersalah, tidak malu untuk tetap berkuasa walaupun tidak menghasilkan perubahan dalam kepemimpinannya, tidak malu2 untuk meminta uang pada saat ada orang lain yang mengalami kesulitan, dsb.
Nampaknya “budaya malu” yang menjadi screening dan nilai untuk tidak melakukan perbuatan negatif mulai beringsut lenyap. Orang berlomba-lomba untuk “mempermalukan diri” atau “membuat malu”, bahkan melenyapkan rasa malu dalam dirinya. Inilah salah satu hal yang membedakan dengan budaya orang Jepang yang akan turun dari jabatannya kalau mereka gagal, bahkan ada yang ber-hara kiri untuk menutupi rasa malu. Atau orang Madura yang memiliki filosopfi “lebih baik berputih tulang daripada berputih mata (malu)”, ataupun orang Jawa yang akan mengisolasi dirinya kalau mendapatkan aib dalam tindakannya.
Persoalannya adalah sampai seberapa jauh budaya malu ini menjadi sebuah patokan dasar seorang pemimpin dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari. Padahal sebagai salah satu bentuk nilai, malu akan menjauhkan kita untuk bertindak patologis ke masyarakat luas. Selain itu lebih jauh lagi, malu akan menjadi “rem” untuk tidak bertindak negatif; merekatkan solidaritas dengan orang lain; kontrol diri bahwa setiap tindakan harus pula mempertimbangkan keberadaan dan dampaknya bagi orang lain; mengarahkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan; menjaga agar tidak berbuat semaunya sendiri karena banyak orang yang akan melihat, memantau dan menilai; membuat seseorang tidak lagi mempertimbangkan sesuatu berdasarkan egonya; menjadi cermin bagi dirinya untuk selalu melihat segala sesuatu dari sisi orang lain, dsb.
Namun demikian perkembangan kehidupan membuat nilai-nilai pun akan berubah, begitu juga nilai “malu”pun agar bergeser.Sebagai sebuah nilai maka mau tidak mau akan sangat tergantung pada orang-orang yang berada pada suatu system. Orang-orang yang berubah akan menggerakkan perubahan system yang ujung2nya juga akan merubah nilai-nilai itu sendiri. Sebuah penelitian tentang pengaruh modernisasi di Singapura oleh Chen, ditemukan terjadinya perubahan besar dalam struktur dan nilai-nilai hidup di masyarakat, terjadi kerenggangan kekerabatan, hubungan antara manusia yang tidak lagi intens, dan aspirasi yang mengarah pada hal-hal yang materiil.
Begitu juga penelitian oleh seorang ahli Psikologi Sosial, yakni Sherif yang menemukan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh sekelompok orang, dimulai dibangun oleh orang-orang yang berada di dalam kelompoknya, yang kemudian akan terjadi perubahan nilai seiiring terjadinya interaksi sosial dengan kelompok yang lain. Hal ini didukung pula oleg pendapat seorang ahli psikologi lintas budaya, Berry yang mengungkapkan bahwa ada sebuah hubungan yang berkelanjutan antara kondisi ekologis dan sosio politis dengan perilaku seseorang.

 

 

 

 

Pencarian Cepat

Pengumuman

Selamat Datang

Selamat datang di website pribadi saya. Semoga website ini dapat berguna bagi mahasiswa saya khususnya dan bagi seluruh masyarakat pada umumnya. Amin...

 

 

Statistik Pengunjung

257378
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
198
303
1835
253068
7404
9525
257378

Your IP: 54.161.91.76
Server Time: 2017-09-22 10:31:08